Senin, 24 Juni 2013

KULINER ITU BERNAMA SEGO BORAN



KULINER ITU BERNAMA
SEGO BORAN

Kabupaten Lamongan merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Jawa Timur  yang memiliki luas wilayah kurang lebih 1.812,8 km² atau +3.78% dari luas wilayah Propinsi Jawa Timur. Dengan panjang garis pantai sepanjang 47 km, maka wilayah perairan laut Kabupaten Lamongan adalah seluas 902,4 km2, apabila dihitung 12 mil dari permukaan laut. Tapi bukan kondisi geografisnya yang kita bicarakan, kita akan membahas kuliner Kabupaten Lamongan.
            Mungkin tak banyak orang yang mengenal Kabupaten ini. Melalui Kuliner yang dimiliki, Kabupaten Lamongan lambat laun mulai dikenal oleh masyarakat dari daerah lain. Ini semua berkat warga lamongan yang merantau mencari sesuap nasi ke daerah lain dengan berdagang atau berjualan yang salah satunya adalah berjualan kuliner Lamongan, sebut saja Soto Lamongan, Pecel Lele Lamongan atau Tahu Campur lamongan sehingga secara tidak langsung nama Lamongan pun ikut menjadi Branding dari kuliner tersebut. Namun ada satu lagi kuliner khas Lamongan yang mungkin jarang orang mengenalnya yaitu Nasi Boran atau biasa orang-orang menyebutnya Sego Boran. Memang belum setenar soto lamongan, pecel lele lamongan atau tahu campur. Pasalnya makanan yang satu ini tidak dijual di luar Kabupaten Lamongan sebagaimana soto lamongan, pecel lele lamongan atau tahu campur yang sudah menjadi identitas lain Lamongan. Nasi Boran khusus hanya dijual di Lamongan saja dan hanya di wilayah perkotaan.
Nama Nasi Boran sendiri sebenarnya merupakan Nasi yang di tempatkan di wadah yang bernama boran yang terbuat dari anyaman bambu yang berbentuk lingkaran pada bagian atas dan persegi pada bagian bawahnya dengan empat penyangga disetiap sudutnya agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah atau alas lainnya. Masakan ini terdiri dari nasi putih atau nasi jagung, dan berbagai macam lauk pauk seperti ayam goreng, udang, tempe, tahu, telur asin, uretan (bakal calon telur), ikan bandeng, ikan kutuk dan ikan sili yang dicampur dalam sambal kuah yang pedas asam, urapan sayur, gimbal gorengan, dan ditambahkan rempeyek.
Sang penjual biasanya menggendong dagangannya ini keliling kampung atau perumahan. Namun saat ini sudah jarang menjumpai ibu-ibu yang berjualan nasi boran secara berkeliling karena mungkin faktor usia dan tenaga.  Mereka lebih memilih untuk berjualan nasi boran dengan mangkal di tempat-tempat tertentu yang relatif ramai seperti stasiun, rumah sakit, alun-alun maupun perempatan jalan bisa ditemui penjaja Nasi Boran. Biasanya mereka akan bergerombol tiga atau empat penjual. Nasi Boran bisa dibungkus ataupun dimakan di tempat penjualnya berjualan. Harga per porsi pun sangat terjangkau yaitu di kisaran Rp. 4.000- Rp 8.000, Harga boleh kaki lima tapi rasa dan kualitas Bintang Lima. Hehehe.....
Nah, dari Nasi Boran ini ada beberapa cerita menarik yang menyertainya. Penjual Masakan ini kebanyakan berasal dari Desa kawotan yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Lamongan. Konon katanya, masakan yang satu ini pun awal mulanya berasal dari desa tersebut dan hanya orang-orang dari desa Kawotan saja yang bisa membuatnya. Dan satu lagi, ada mitos bahwa kalo nasi ini dibawa keluar dari kota lamongan maka rasa nya pun tak se-maknyus kalo dimakan di tempat. Masakan ini pun hanya bisa di jumpai di beberapa titik didaerah kota lamongan saja. Kalo pengen bukti monggo bisa di coba sendiri, Datang dan rasakan sensasinya.
Ada beberapa hal yang sebenarnya sangat menarik dan perlu adanya kajian yang mendalam terkait nasi boran ini bila dilihat dari sudut pandang ekonomi dan pemberdayaan wanita. Bisa jadi efek positif yang dapat ditimbulkan dari nasi boran ini adalah pengentasan kemiskinan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat penjual khususnya didaerah Desa Kawotan serta pemberdayaan wanita atau ibu-ibu rumah tangga dalam mendukung perekonomian keluarga yang ada disana. Berawal dari sego boran lah akhirnya ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya membantu suaminya berladang sekarang bisa lebih produktif dengan berjualan nasi boran. Pendapatan yang diperoleh pun cukup lumayan untuk dapat menopang kehidupan keluarga dari pada sekedar berpangku tangan dan minta-minta dijalan.
Sungguh patut disyukuri Kota Lamongan ini memiliki salah satu warisan kuliner nusantara yang tiada duanya. Semoga Kuliner ini bisa dinikmati di seluruh negeri. Jayalah Kuliner Indonesia......